Karena kamu hidup, maka semuanya menjadi mungkin.
Catching Elephant is a theme by Andy Taylor
masa lalu nya adalah milik-ku dan tidak bisa kamu rubah, sedangkan masa depan nya adalah milik-mu dan tidak pula bisa aku rubah.
kita sama-sama mengimani garis tuhan, andai sudah waktunya kita akan dipertemukan pada titik terbaik menurut-Nya, begitu seharunya jalur yang sama-sama kita imani.
seluruh rasa pasrah dan gelisah menyulusup terlalu dalam pada sudut-sudut kepala yang kosong, pada lorong hati yang remang. semesta memang kadang serumit ini untuk dihadapi dengan kepasrahan.
semoga ada ketukan yang mengembalikan keadaan pada jalur yang sebenar-benar nya hidup, dengan jalan dan ketentuan yang baik, tapa meninggalkan luka tanpa meninggalkan duka.
kemudian kita sama-sama berbahagia dengan hidup.
Februari
Sampai jumpa kelana,
Ah, bukan. selamat tinggal kelana, kita tidak boleh bertemu lagi agar aku tidak jatuh untuk yang kedua kali.
Pergilah sejauh mungkin, berlari lah sekencang mungkin, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, di sisi kanan dan kirimu hanya berisikan tipu daya yang sedikitpun tidak pernah nyata.
Dan, abadilah kau sebagai orang asing.
Januari
Perlahan hilang di dekap malu dan ragu yang kian besar, kamu maupun aku tidak tahu perihal semua lajur cepat yang tuhan beri. Tiba-tiba melesat serupa kilat, tidak ada yang bisa menghentikan segalanya sekalipun keraguan dan ketakutan melekat erat-erat.
Berkelana pada lajur yang dikata tidak tepat, untuk aku dan kamu, tidak akan menemukan tempat, tidak akan menemukan akhir, tidak akan menemukan labuh, bahkan tidak akan menemukan titik
Semuanya adalah koma, semuanya adalah jeda, yang sudah jelas akan tertulis lagi cerita setelahnya dibubuhkan.
Tidak akan serta merta berpijak pada masa yang sama, segalanya adalah buta ketika semua menyematkan kita.
Desember
Ternyata kita hanyalah 2 tangkai hati yang diperkanankan untuk sekedar paham kata temu, namun perihal menjadi-satu katanya semesta tidak berkenan memberi restu.
Ironisnya kita tidak paham bagaimana rasa bahagia, seperti yang sering aku uraikan pada sajak-sajak romansa. Sebab kita, menjadi sama-sama pun-tidak
Sedihnya, Lagi…. semua kata tanggung, kurang, kepalang, dan setumpuk penyesalan, adalah milik kita. Sebab kita tidak pernah menjadi satu kesatuan yang sempurna.
Bahkan sampai akhir, sampai sajak ini aku tulis, sampai api yang suar nya mulai padam, sampai awan ditenggelamkan hujan, dan sampai dipuncak kekecewaan, kita tidak pernah menjadi apa-apa.
November
Tanpa sengaja mempertemukan kita Yang awalnya hanya saling sapa dan tatap Tanpa ada yang mulai bercakap. Namun, setelah hujan reda dan langit mulai gelap kita berdua duduk berdampingan. Mulai mengeluarkan suara hingga terungkap tawa yang sedari tadi di dekap malu-malu untuk bertanya perihal aku dan kamu.
Kini, kita duduk sejajar berdampingan Menatap dengan gelak tawa ditemani aroma khas hujan dan sedikit pekat malam, pada akhirnya kamu menceritakan tentang dirimu dan perihal hatimu yang menyimpan rasa yang selalu kamu anggap semu, dan begitu juga denganku yang terdiam cukup panjang mencerna semua cerita tentang dirimu Hingga waktu yang ditentukan kita beranjak pergi,
Dan aku tidak bisa lupa.
Jatuh cinta kepadamu adalah pesawat kertas yang kuterbangkan ke arahmu tetapi kalah menarik dari layang-layang yang berterbangan bebas dilangit muram.
Sehingga angin menyeretnya pada rintikan gerimis yang kemudian membasahkan sayapnya, tersungkur di tanah beraroma petrikor, di sisi anak-anak yang berlarian menikmati tetesan hujan yang kemudian semakin deras.
Sementara kamu berlarian menarik benang layang-layang. seratus persen tidak tertarik, malah tercabik-cabik lalu mulai tersungkur pesawat kertas itu pada genangan-basah, kotor, dan kemudian terkoyak.
Tetapi herannya aku menikmati setiap perjalanan ke arahmu selayaknya kamu menikmati perjalanan ke arahnya.
Aku mungkin akhirnya hanya jadi bayang-bayang di antara malam mu yang sepi. Pun kamu yang akhirnya hanya jadi bayang-bayang dalam mimpi ku yang mulai mati. Biar kita menjadi asap dari api yang suarnya mulai padam detik ini. Sedang aku akan membiarkan mu menyala di antara gelapnya hari-hari.
Tak semua bisa ku bawa serta, selalu ada yang tertinggal. Bagian kecil dari kita, di dalam aku. Karna ada yang tak dapat di sangkal, tentang waktu yang berlalu, tentang aku yang ingin jadi abadi mu. Walaupun di ujung hari, tangis mu milik ku. Bahagia mu mungkin bukan bagian dari itu.
katanya, semua diciptakan berdampingan. tapi sepertinya aku dan kamu tidak, bukan kah kita bagian dari -semua itu?
sepertinya perlahan-lahan aku menjadi debu, tersapu riuh dunia yang mengharuskan setiap makhluk bernyawa ‘baik-baik saja’ padahal setiap makhluk bernyawa perlu jeda, agar akalnya kembali menyala tak padam di telan silaunya rasa.
ditikam rindu yang terus menderu, seperti mati segan hidup tak mau. lalu kita ini apa? bukan kah malam dan siang, terang dan gelap, hitam dan putih, lalu aku dengan siapa? karena aku dan kamu tentu tidak, bukan pasangannya, bukan seharusnya.
You are too good to be true. I’m just nothing to compare it, but you stay only as my imaginary. your presence still lingering on my mind, but I realize. you are only my imaginary. and we can have each other on my sweetness dream, I close my eyes. That’s great time to see u~
Pada rotasi semesta yang kamu kira tidak pernah berpihak, pada gaduh kepala yang dipenuhi suara riuh kematian, pada juntaian kata yang terucap dunia tidak pernah berpihak barang sedikit pun.
dalam cerita utama hidupmu, silahkan benarkan segala rasa kamu korban utamanya. silahkan katakan iya, kamu adalah jiwa yang tersakiti manusia lainnya. silahkan ceritakan pada semua kamu sang protagonis yang sering ditikam amarah dunia.
Tapi,
pernahkah sedikit saja terlintas pada kepalamu yang beku itu, ada yang diam-diam menceritakanmu pada langit tentang pesakitannya, tentang setiap keping hatinya yang hancur, tentang setiap irisan jiwanya yang perlahan ditikam mati, tentang dunianya yang perlahan lari, tentang mimpi yang di renggut habis di depan matanya sendiri. diam-diam ia bersimpuh di pekat malam pada tuhan nya, menceritakan segala peluh dan kegaduhan abadi di dalam hati dan kepalanya.
pertarungan do'a melangit.
cerita siapa yang menembus dan sampai paling dulu pada tuhan nya? tidak kah kamu gelisah? menebak latar akhir dari sebuah kisah? barang tentu tuhan mendengar lebih dulu doa pesakitan mana yang paling sering melangit, kening disepucuk sajadah mana yang paling lama menguraikan air mata nya.
lantas, tidak ada sedikitpun keberhakan-mu pada segala yang rumpang-rancu-dan ambigu, dan penghakiman pada dunia yang kamu sebut tidak pernah berotasi kepadamu.